Rabu, 12 Desember 2012

Memacu Poni di Lembang*

Yadi Angga memacu Puma, kuda tunggangannya mengelilingi lintasan pacu sepanjang 800 meter. Debu-debu yang beterbangan dan menempel di hidung serta bibirnya tidak dia pedulikan. Matanya terlindung di balik kacamata yang dia pakai.



Meski baru berusia 13 tahun dan berbadan paling kecil, Yadi berhasil mengungguli enam penunggang lainnya melintas garis finish. Setelah menerima piala dan hadiah uang, Yadi dan Puma diarak para pendukungnya meninggalkan arena pacuan. Mereka semua berjoget bersama sambil mendengarkan iringan lagu dangdut yang dimainkan langsung oleh tim kesenian kuda renggong.

Kejadian ini terus berulang di Lapangan Pacuan Kuda Kayu Ambon, Lembang, Kabupaten Bandung Barat dalam gelaran Kejuaraan Pacuan Kuda Tradisional Lembang, Minggu (24/8) lalu.


Kedekatan antara penonton dan pembalap di lapangan pacuan ini seakan tidak ada batasnya. Lapangan berdebu dan bahaya dari kuda yang berlari tidak menjadi penghalang ribuan pengunjung untuk mendekati lingkaran dalam arena pacu.



Hampir bisa dibilang para penonton merapat ke sisi arena saat kuda-kuda akan dilepas dan memasuki garis finish. Animo tinggi dari masyarakat ini cukup beralasan, karena kegiatan serupa sempat tidak berjalan selama empat tahun terakhir.

“Kejuaraan ini untuk menampilkan kuda-kuda lokal milik masyarakat Lembang dan sekitarnya. Selama ini perhatian selalu ditujukan untuk kedua kelas, kuda milik masyarakat kurang mendapat kesempatan berprestasi,” kata Ketua Panitia Letnan Kolonel Kavaleri Edward Sitorus.

Kuda-kuda yang diperlombakan dalam pacuan ini adalah asli kuda lokal Indonesia yang berasal dari Sumba atau biasa disebut kuda poni sandalwood. Tingginya antara 120 hingga 145 sentimeter. “Pesertanya di luar dugaan kita, lebih dari 100 kuda,” papar Ketua Seksi Dana dan Usaha, Uke Ridwan kepada SP.

Uke yang juga General Manager De Ranch mengungkapkan kuda-kuda lokal ini sehari-harinya banyak yang digunakan untuk menarik delman atau disewakan di tempat wisata. “Ternyata di Lembang memang banyak sekali kuda lokal. Delman saja jumlahnya lebih dari 200 buah.”

Menurut penggemar olahraga berkuda ini, dalam radius 2 kilometer dari tempat pacuan saja ada sekitar 6 buah stable atau kandang kuda. “Stable itu bisa dibilang besar karena memelihara lebih dari enam ekor kuda,” tutur Uke sambil menambahkan jumlah tersebut belum ditambahkan dengan kuda-kuda yang dimiliki masyarakat.

Selama ini, Kota Lembang yang berada 10 kilometer di sebelah utara Kota Bandung lebih terkenal sebagai daerah penghasil sayuran segar dan juga susu sapi. Suhunya yang terbilang dingin menjadikan daerah ini memang cocok untuk beternak sapi perah dan penggemukan sapi potong.

Uke memandang jumlah kuda yang cukup banyak di sana menjadi salah satu potensi tambahan buat pengembangan Lembang. Menurut dia, sarana dan prasarana seperti arena pacuan kuda yang ada selama ini ternyata bisa difasilitasi dan menarik perhatian masyarakat.

Sebelum menggulingkan ide untuk membuat pacuan kuda tradisional, Uke sudah terlebih dahulu memperkenalkan wisata berkuda dengan tema koboi yang dikelolanya, De Ranch sejak delapan bulan lalu.



Dalam kawasan wisata seluas 2 dari total kawasan 5 hektare, Uke mengajak setiap orang untuk mencoba olahraga berkuda. Selain ada materi mengenai berkuda, sarana bermain bagi anak-anak, dia juga menyediakan beragam makanan di sana. Uke melabeli tempat itu dengan slogan “food, leisure, knowledge”.

“Kita beri pengetahuan bagaimana menunggang kuda, memasang tapal kuda, sampai memerah susu sapi,” ungkap Uke menjelaskan soal knowledge yang dia usung.

Menurutnya, olahraga berkuda itu sangat cocok buat mereka yang ingin belajar mengontrol emosi serta konsentrasi. “Dalam berkuda, kita tidak bisa memaksakan emosi kita. Karena ini berhubungan dengan binatang sehingga melatih ketenangan serta keseimbangan kita.”

Hal itu juga yang membuat Uke lebih memilih menunggang kuda untuk kegiatan santai bukan untuk berkompetisi. Pilihan ini berbeda dengan Ade Suyono, pemilik Pabalatak Stable dari Tanjung Sari, Kabupaten Sumedang. Buatnya, berkuda itu untuk hidup.

“Pacuan di luar kota itu bisa membuat kita pulang bawa uang. Tidak seperti kalau hanya di Sumedang,” katanya.

Ade mengaku keluarganya sudah turun menurun mengurusi kuda, khususnya untuk pacuan. Yadi Angga, penunggang Puma adalah putra bungsunya yang diharap akan menjadi penerusnya.

Untuk sekali pacuan seperti di Lembang, Ade membawa tujuh ekor kuda miliknya. Setiap kuda, kata dia, sudah mendapatkan perawatan ekstra sejak tiga bulan sebelum pacuan. “Perawatannya sampai Rp 500 ribu per kuda. Tapi kalau sudah menang, kuda itu harga jualnya naik. Bisa ko hidup dari kuda,” imbuh Ade yang sudah menjadi joki semasa mudanya.



Animo untuk turut berpacu ini tidak hanya dimiliki oleh Ade. Buktinya, dari 14 kelas pacuan dengan jarak tempuh 800 meter, terdaftar lebih dari 100 kuda yang ikut serta. Setiap kelas dibagi berdasarkan ukuran tinggi kudanya. “Kita hanya mewadahi saja, komunitasnya sudah ada,” kata Uke merendah soal banyaknya pemilik kuda yang mendaftar dalam pacuan itu.

Menurut Uke, apabila Pemerintah Kabupaten Bandung Barat ingin menjadikan pacuan itu sebagai kejuaraan rutin, maka lapangan pacuan yang ada harus dibenahi. Pasalnya, lapangan yang ada terasa kurang memadai baik buat kuda, joki, dan penonton.

“Harus rata dan tidak keras. Berbahaya buat joki dan kuda, saat melaju kencang di tanah yang tidak rata, besar kemungkinan mereka terjatuh. Kita juga ingin ini nyaman ditonton,” paparnya sembari berharap kegiatan ini dapat menjadi identitas dan penanda baru Kota Lembang. [SP/Adi Marsiela]

*lagi-lagi tulisan pindahan dari multiply

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...