Kamis, 09 Agustus 2007

Enaknya Ditunggu Dogot


Lelaki itu terengah-engah. Dia memacu sepedanya, mulai dari duduk tegak di atas sadel sampai membungkukkan badannya. Mungkin, biar lebih cepat sampai tujuan. Sang perempuan yang sejak tadi diboncengnya pun semakin erat memeluk pinggang si pengemudi.

Padahal sebelumnya, mereka bersepeda dengan santai menikmati angin yang menerpa dari depan. Malah yang dibonceng sempat makan kacang di tengah-tengah perjalanan. Tapi, kenikmatan itu su- dah berlalu. Sang lelaki semakin kencang memacu sepedanya.

Meskipun kelelahan, sang lelaki masih bisa melempar senyuman. Seakan senang mendapatkan pelukan yang semakin erat dari penumpangnya.

"Enaknya Dogot yang tunggu kita," lirih sang perempuan dari bagian belakang.

"Tapi kita tidak boleh terlambat," kata si lelaki.

"Peduli amat," kata si perempuan lagi. "Terlalu cepat juga tidak baik," ungkapnya sebelum sempat disanggah sang lelaki.

"Tapi kita sedang ditunggu Dogot," timpal lelaki.

Perdebatan keduanya terus berlangsung sem- bari mereka mengayuh sepedanya.

"Kamu saudaranya ya?" tanya sang perempuan yang membuat si lelaki tidak lagi mengayuh. Belum sempat yang lelaki menjawab, si perempuan bertanya lagi, bertanya lagi, dan bertanya lagi. Keduanya jadi terlibat dalam sebuah perdebatan.

Bukan perdebatan yang mengakibatkan emosi sehingga keduanya harus berpisah, melainkan sebuah adu argumentasi yang secara tidak disadari menggali tujuan dan niat-niat masing-masing mereka dalam sebuah perjalanan. Masalahnya, sang lelaki yang membonceng si perempuan tidaklah dapat menjelaskan siapa sebenarnya Dogot yang menunggu mereka berdua.

Perjalanan mereka yang penuh dengan dialog tentang esensi sebuah pertemuan mewarnai pertunjukan teater berjudul Ditunggu Dogot di Pusat Kebudayaan Prancis, Bandung, Rabu (25/7).

Adalah Komunitas Hitam-Putih Indonesia yang menafsirkan dan mewujudkan cerita pendek karya Sapardi Djoko Damono ini bentuk pertunjukan teater.

Dari judulnya, kita dapat melihat sang penulis terinspirasi oleh 'Menunggu Godot' karya Samuel Beckett. Dia mencoba memahami persoalan "menunggu" yang tidak akan lengkap tanpa ada yang "ditunggu".

Kurniasih Zaitun atau akrab dipanggil Tintun, sang sutradara menyederhanakan pemaknaan "menunggu" dan "ditunggu" menjadi sebuah hal yang memang sudah seharusnya berpasang-pasangan. Seperti halnya, ada lelaki (Rudi M) dan perempuan (Meria Eliza), gelap-terang, siang-malam, dan sebagainya.

"Harus ada yang mera-sa ditunggu biar Dogot ti-dak kerepotan," kata sang lelaki.


Apabila kita tarik dalam kehidupan sehari-hari, aktivitas menunggu memang bukanlah sebuah pekerjaan yang menyenangkan. Terlebih yang ditunggunya itu tidak kunjung datang atau sekedar memberi kabar. Tintun mencoba menyadarkan kita semua, aktivitas menunggu itu tidak akan menjadi sesuatu yang sia-sia apabila yang ditunggu itu merasa ada sebuah nilai yang harus dicapai.

Nilai yang dimaksud adalah esensi dari sebuah pertemuan. Tidak jarang kalau kita ditunggu seseorang, maka posisi orang yang menunggu itu, kita tempatkan sebagai objek penderita. Sederhananya, yang membutuhkan kita itu pasti menunggu, tanpa kita sa- dari penantian tersebut sebenarnya tidaklah selalu menyenangkan.

Inti cerita sendiri terdapat dalam dialog antara sang lelaki dan perempuan.

Tintun berharap dengan menggunakan konsep stage on stage (panggung di atas panggung) yang menghadirkan panggung bergerak (berputar) dapat membuat penonton merasakan perpindahan waktu dan blocking. Penonton sendiri sebenarnya dimudahkan untuk mengapresiasi pentas tersebut.

Sayangnya, pertunjukan yang rencananya bakal digelar di Sanggar Baru, Taman Ismail Marzuki, Cikini Jakarta Pusat (27 Juli 2007) dan Taman Kambojo, Kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (28 Juli 2007) nanti terkesan memaksakan latar belakang panggung. Multimedia yang ditembakkan ke layar putih itu tidak tergarap secara sempurna. Tidak ada benang merah antara yang ada di panggung dengan latarnya.

Meski demikian, perdebatan antara sang lelaki dan perempuan dapat menyentuh akal sehat kita. Tentang sebuah makna dari "menunggu" dan "ditunggu". Terserah kita mau mengartikannya sebagai sebuah harapan akan kehidupan setelah kematian atau hanya sekedar rutinitas sehari-hari. Misalnya menanti pacar yang tidak kunjung datang padahal sudah mengucap janji untuk berkencan.

Perjalanan hidup manusia yang tak pernah bisa ditebak, namun bisa dirasakan, dijalani dan dinikmati. [SP/Adi Marsiela]

Published: 28/7/07

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...