Sabtu, 20 September 2008

akhirnya buat juga...persepuluhan

ya, akhirnya saya tulis juga ini...'dipaksa' deme dan wage yang tampaknya lebih sering berdiam di depan komputer...

Nama saya, Adi Marsiela. nama yang jauh berbeda dengan adik saya, Stephen Adam. Nama itu sebenarnya bukan nama pilihan awal dari orang tua. katanya, mereka mau kasih nama saya martin ..something...karena lahir di tanggal 10 maret katanya. entah mengapa terjadi perdebatan dengan kakek dari ayah yang seorang pendeta, lalu akhirnya dipilihlah kata adi jadi nama depan saya, katanya itu anak pertama seperti yang tertulis di alkitab. Setelah tahu asal muasal nama pertama itu, sampai sekarang saya tidak pernah tahu dan tidak pernah menanyakan dari mana asal nama kedua saya yang tertulis Marsiela itu...ah biarlah..

Itu soal nama resmi, kalau nama adi selang keluar gara-gara si Tude Rusy Onglika, ketua angkatan Fikom Unpad 98 yang memanggil saya dengan nama itu. Awalnya, dalam ospek mengharuskan mahasiswa baru membawa selang berwarna hijau sepanjang 700 meter, karena hari sudah sore dan tidak kunjung ada solusi, akhirnnya saya ajukan diri untuk mencari selang itu di Bandung. Sejak itu, dia memanggil dan menyebut saya dengan nama Adi Selang.

Asli keturunan Cina, nama bapa saya itu Tan Soen Hok dan ibu saya Oey Tjeng Lian. Kata mereka kalau nama saya diimbuhi nama Cina bisa bikin ribet hidup. Sering berkelahi sama anak-anak di lingkungan dekat rumah karena dipanggil "Cina, Cina, Cina", baru bisa berpikir jernih kalau disebut seperti itu saat masuk kuliah.

waktu SD pernah kabur dari rumah, mau tidur di taman di jalan sawah kurung, tapi kemudian memutuskan pulang dan tidur di belakang mobil.

ga nyaman setiap kali harus naik lift. pernah merasa hampir mati dan tidak bisa bernafas karena tidur dalam tenda di sisi danau ranu kumbolo (Gunung Semeru) yang mana kain tendanya nempel di mulut dan hidung, ternyata saya tidak bisa diam lama di tempat sempit dan gelap.

Baru bisa naik sepeda roda dua setelah masuk SMP, itu juga setelah adik saya lebih dahulu bisa menaiki sepeda yang sama.

Berhenti merokok di awal tahun 2008 karena tidak tahu mau berbuat apa lagi di bawah jembatan Pasteur-Surapati, hujan rintik-rintik, jalanan macet, suara bising sama terompet.

Kalau kumpul sama teman-teman dan minum-minum, lebih senang kalau meja dan sekitarnya bersih. Mau ga mau jadi orang yang membersihkan bekas puntung dan abu rokok serta lainnya. Bukan gila kebersihan, cuma mikir kalau bersih akan lebih enak minumnya...

Saya suka Maria Renata, sampai suatu waktu hendak mendekati dan berbicara dengannya, tiba-tiba il-feel karena dia berbalik dengan rokok di bibirnya...kenapa ya harus il-feel? Soalnya banyak juga teman saya yang perempuan merokok dan saya baik-baik saja sama mereka...

ya udah segitu aja...








Jumat, 12 September 2008

Keroncong Menggugat

Yoga dan Nedi tidak akan pernah melupakan pengalamannya membuka konser kelompok musik The Titans di Lapangan Tegallega, medio 2007 lalu. “Dilempari penonton soalnya,” kata Yoga kepada SP, Kamis (28/8) lalu.

Mereka tidak hanya berdua, melainkan bertujuh saat tampil menjadi pembuka di konser tersebut. Nedi, sang vokalis sebenarnya sudah banyak dikenal lewat grup musiknya, PHB (Pemuda Harapan Bangsa) yang sering membawakan lagu-lagu dangdut melayu. Seperti Pancaran Sinar Petromax di era tahun ’80-an. “Tetap saja dilemparin, biar Nedi sudah di depan juga,” tambah Yoga.
Ketika tampil itu, mereka bukan mengusung nama PHB, melainkan Gurame Edan. 

Musik yang diusungnya pun jauh berbeda. Mereka memang sengaja memainkan lagu-lagu yang sudah terkenal dengan nuansa keroncong. “Sulit untuk memainkan lagu keroncong sesuai pakem. Makanya kita main dengan nuansanya saja,” papar Yoga yang juga anggota PHB.
Gaya bermusik Gurame Edan memang unik, sesuai dengan nama grup musiknya yang tidak lazim. Lihat saja mereka saat tampil dalam acara Repoeblik Kerontjong Indonesia di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, pekan lalu. 

Mengenakan kaos oblong putih dengan celana jins selutut, Nedi membuka penampilannya lewat lagu Rolling Stones, ‘She’s a Rainbow’. Dia diiringi oleh Rai (celo), Barkah (gitar), Yuda (biola), Daris (cuk), Dela (cak), dan Yoga yang membetot senar sembari duduk di bagian sisi kontra bas-nya.



Posisi bermain Daris dan Barkah pun tampak tidak biasa. Keduanya jongkok di atas kursi. “Kita bukan gaya, tapi kursinya kekecilan,” kata Yoga mencari pembenaran buat gayanya.

Kamis, 12 Juni 2008

Basa-Basi Saudara Tua


“…Pada saat itu, aku agak merasa malu. Terus terang saja, aku tak pernah merasa ini. Aku malu dan dengan terus terang memandang Indonesia dengan enteng. Kumohon maaf…”

Demikianlah pengakuan Toyoshima Hideki, Direktur Graf Media GM dari Jepang yang melakukan survei buat pameran “KITA!!: Japanese Artist Meet Indonesia”. Ini merupakan kedatangan pertamanya ke Indonesia.

Sebelumnya, Hideki yang menerima tugas dari Japan Foundation untuk menjadi kurator di pameran tersebut menganggap di Indonesia tidaklah banyak ruang seni dan kebudayaan.

Kenyataannya, survei di Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta menunjukkan hal yang berbeda. Dalam kesempatan bincang-bincang di Bandung, beberapa waktu lalu, dia mengaku menemukan banyak ruang seni dan budaya dengan berbagai ukuran. Setiap tempatnya menunjukkan prinsip dan warna tersendiri dengan jelas. Hal ini jugalah yang membuatnya menuliskan permohonan maaf dalam pengantar kurasinya.

Selangkah Mendekati Liverpool


…many times I've been alone/and many times I've cried/Any way you'll never know/the many ways I've tried

But still they lead me back/to the long winding road/You left me standing here/a long long time ago/Don't leave me waiting here/lead me to your door

But still they lead me back/to the long winding road…

Kegelisahan Paul Mc Cartney tergambar jelas dalam lagu ‘The Long and Winding Road’, saat dia menciptakannya. Pemain bas The Beatles ini percaya ada kuasa yang mengatur dalam hidupnya. Mc Cartney meminta agar sang empunya kuasa mengarahkan dia ke jalan hidup yang seharusnya.

Lagu yang keluar bersamaan dengan album Let It Be pada tahun 1970 ini diwarnai perselisihannya dengan personil The Beatles lainnya. Saat itu, mereka terancam bubar.

Pesan ini rupanya ditangkap oleh grup musik G-Pluck asal Kota Bandung yang menggelar pertunjukkan “Road to Liverpool Beatles Week Festival 2008” di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung, Jumat (6/6) malam.

Dengan berbalutkan kemeja berdasi dan jas hitam, Awan Garnida (bas), Wawan (gitar), Adnan Sigit (gitar), dan Beni Pratama (drum) membawakan sekitar 33 lagu milik The Beatles, malam itu.

Seperti juga The Beatles, lagu ini dinyanyikan oleh sang pemain bas. Namun saat membawakannya, Awan memilih menggunakan keyboard. Instrumen bas beralih ke tangan Wawan yang ‘memerankan’ George Harrison.

Meski kental dengan aksen Inggris, vokal Awan masih tetap enak didengar. Kegelisahan Mc Cartney kembali terasa malam itu. Namun kali ini, ada empat anak muda yang berharap mendapatkan tuntunan dari Sang Kuasa untuk berkarya di Liverpool, tempat kelahiran grup musik yang mereka idolakan.

Ya, G-Pluck memang berupaya untuk dapat tampil sebaik-baiknya di Sabuga. Penampilan ini bukan sekadar bermain musik saja buat mereka. Mereka tampak ingin  memberikan jawaban kepada para penggemar The Beatles di Indonesia. Pasalnya, G-Pluck dipercaya untuk mewakili Indonesia dalam ajang Beatles Week Festival di Liverpool, Inggris pada 23 hingga 29 Agustus nanti.

Di sana, grup musik yang terbentuk semenjak tahun 2001 ini bakal tampil di Cavern Club, tempat The Beatles manggung pertama kali pada Selasa, 21 Februari 1961.

Kala itu, John Lennon, George, Paul, dan Richard Starkey alias Ringgo Starr baru kembali ke Liverpool dari Hamburg, Jerman. Mereka tercatat tampil sebanyak 292 kali di tempat itu antara tahun 1961-1962.

Mengawali penampilannya, G-Pluck langsung membawakan lagu The Beatles dari album Please Please Me dan album tunggal Meet The Beatles, Twist and Shout dan I Want to Hold Your Hand.

Kepiawaian Sigit yang ‘menjadi’ John Lennon, teruji ketika dia membawakan lagu Mr. Moonlight dari album Beatles for Sale yang keluar di tahun 1964. Lagu ini diawali oleh intro lengkingan suara Sigit yang menyebut judul lagu ini tanpa iringan instrumen apapun.

“Kamu pasti gugup ya,” kata Awan menyindir Sigit sebelum mulai bernyanyi.

Lagu ini juga yang menjadi penanda masuknya Tumpak Sidabutar dan Ramundo Gascaro membantu G-Pluck dengan instrumen keyboard-nya. Penampilan keduanya - meski pemain tambahan – memberikan suasana baru dalam Sabuga. Terlebih ketika G-Pluck membawakan lagu-lagu dari era 1965 seperti Norwegian Wood yang kental dengan suara alat musik petik dari kawasan Asia itu.

Dengan rambut poninya - kecuali Beni yang gondrong sehingga mirip penabuh drum Naif, Pepeng – G-Pluck berhasil memainkan lagu Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band dan With a Little Help From My Friends dari album Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band, yang terpilih sebagai salah satu album terbaik sepanjang masa, setahun silam.

Tidak hanya memainkannya, semua personil G-Pluck juga bisa bernyanyi. Mereka bernyanyi sesuai penyanyi dalam formasi The Beatles.

Misalnya,  Wawan menyanyikan lagu yang dibawakan oleh George Harrison lewat You Like Me to Much dan Here Comes The Sun, Awan di lagu Penny Lane, Hey Jude, tidak ketinggalan  Beni yang bernyanyi sembari bermain drum seperti Ringgo Starr pada lagu With a Little Help From My Friends. “Bedanya kalau Ringgo bermain itu kepalanya goyang-goyang. Kalau yang tadi tidak,” kata Anka (20), salah seorang penggemar The Beatles yang ikut menonton malam itu.

Pertunjukkan di Sabuga itu sebenarnya bisa berakhir apik, seandainya pembawa acara tidak salah paham dengan G-Pluck. Lazimnya sebuah pertunjukkan, para pemain akan turun panggung dan pembawa acara menutupnya dengan terima kasih. Karena tidak puas,  penonton meminta mereka tampil kembali dan pembawa acara yang turun.

Kali ini tidak. Pemain belum turun panggung, pembawa acara sudah menutup acara. Parahnya lagi, pembawa acara memberi komando agar penonton meminta G-Pluck memainkan beberapa lagu lagi. “Sangat membingungkan,” kata Awan ketika hendak tampil lagi dengan lagu Hey Jude.

Meski membingungkan, G-Pluck tampaknya tidak bakal mengalami kendala di atas panggung. Buktinya penampilan mereka di panggung tetap asyik untuk dinikmati hingga selesai membawakan lagu terakhir malam itu, I Saw Her Standing There.

Tampaknya, mereka tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk tampil dalam  Beatles Week Festival yang bakal memasuki penyelenggaraannya yang ke-25, setelah sebelumnya selalu digelar setiap tahun sebagai bentuk penghormatan terhadap grup musik legendaris asal Inggris tersebut.

Semoga saja tidak ada halangan berarti bagi mereka untuk tampil di sana, mengingat nama Indonesia yang mereka bawa.



 

Senin, 26 Mei 2008

nyanyian kode...

sebelumnya liat hagi ama ricky yang posting..iseng dan jadilah...

 

Hanya orang yang mempunyai kemampuan lebih yang dapat membuka File ini. Jika seandainya Anda sukses membuka File ini maka Anda akan menemukan nama-nama orang yang pernah dan bisa membuka file ini. Nah sekarang giliran Anda untuk mencobanya!

 

Seorang laki-laki mau masuk ke ruang kerjaanya, tetapi ia lupa dengan passwordnya, yang dia ingat hanya lima angka. Berikut petunjuk untuk lima angka tersebut:

 

1. Angka ke lima di tambah angka ke tiga sama dengan empat belas

2. Angka ke empat lebih besar satu angka dari angka ke dua

3. Angka pertama lebih kecil satu angka dari dua kali angka ke dua

4. Angka ke dua di tambah angka ke tiga sama dengan sepuluh

5. Jumlah keseluruhan angka tersebut sama dengan tiga puluh


Berapakah kelima angka tersebut?

Jawaban masing-masing angka diurut dari angka pertama sampai yang terakhir itu kunci untuk membuka File yang judulnya nyanyian kode itu.


Jika
Anda berhasil membuka file 'nyanyian kode' silakan tulis nama Anda di dalam daftar tersebut, dan kemudian kirimkan kembali ke teman dekat Anda...

Attachment: nyanyian kode.xls

Jumat, 07 Maret 2008

Perempuan Menuntut Malam (Monolog)

Start:     Mar 28, '08
End:     Mar 29, '08
Location:     Teater Tertutup Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat
Memperingati hari perempuan sedunia 2008, Institut Ungu dan Yayasan Pitaloka mempersembahkan pentas teater monolog berjudul “Perempuan Menuntut Malam”, yang berbicara soal Cinta, Rumah, Sex, Politik dan Kekuasaan.

Pementasan di Bandung, bekerjsa sama dengan mainteater Bandung dan Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, dilaksanakan tanggal 28 dan 29 Maret 2008 di Teater Tertutup Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, pukul 19.30 WIB.

Monolog “Perempuan Menuntut Malam” dimainkan: Rieke Diah Pitaloka, Niniek L.Karim, Maryam Supraba.

Conference: 27 Maret 2008, pukul 14.00 WIB di Lobi Teater Tertutup Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat.

DON'T MISS IT!!!!!!
Informasi & Reservasi: Zhu Khie Thian (0813.2064.0929 – 0813.9528.1713)

Kamis, 28 Februari 2008

Jazz Break

Start:     Mar 4, '08 7:00p
Location:     Bp. Bumi Sangkuriang Jl. Kiputih No.12, Bandung
Bp. Bumi Sangkuriang dan Republik of Entertainment kembali menggelar music Jazz yang bertajuk Jazz Break. Kali ini Jazz Break akan menampilkan kelompok legendaris Bhaskara 2008 yang di pimpin oleh Bambang Nugroho. Sementara Salamander Big Band akan tampil dengan seluruh personilnya yang berjumlah 30 orang. Selain itu akan tampil LOGIC Band dari Melbourne yang hadir atas kerjasama Australia-Indonesia Institute dan Arimba Culture Exchange dari Sydney, Australia.

Jazz Break akan berlangsung pada:
Hari : Selasa
Tanggal : 4 Maret 2008
Waktu : pkl 19.00-22.00

Melalui Jazz Break ini diharapkan kehadiran musisi Jazz Australia ke Kota Bandung dapat membuat Jazz kian semarak dan jalinan antar musisi Jaz Indonesia-Australia kian hangat.

Selasa, 01 Januari 2008

Perhotelan di Bandung (nuhun plank)

Soal Hotel di Bandung (ini mengambil dari plank77.multiply.com, thank u plank)

Kata dia, data-data ini bisa diliat juga di www.tripadvisor.com, buka city: BANDUNG bagian hotels dan B&Bs (Bed & Breakfast)

Yang ada di sini tarif tahun 2007, kalau tahun 2008 ya tinggal di cek aja lagi...ada kontaknya ini....

 

Tarif Rp. 100.000 sampai Rp. 200.000

- Guntur Hotel, Jl. Otista 20 Telp. (022) 420 3763
- Harapan Indah Hotel, Jl. Gatot Subroto Telp. (022) 730 8561
- Harmoni Inn 2 Jl. Talaga Bodas, Telp. (022) 730 7457
- Karmila Hotel  Jl. Ir. H. Djuanda (Dago) Telp. (022) 420 6778
- Mutiara Hotel Jl. Station Telp. (022) 420 0333
- MQ Guest House, Jl. Geger Kalong Telp (022) 200 5105
- Progo Hotel, Jl. Progo Telp (022) 420 6249

Tarif Rp. 200.000 – Rp. 300.000


- Hotel Sawunggaling, Jl. Sawunggaling Telp. (022) 421 8254
- Cihampelas Hotel, Jl. Cihampelas Telp. (022) 204 3695, 203 3425
- Sany Rosa, Jl. Setiabudi Telp. (022) 203 3562
- Dequr Hotel Jl.Dipati Ukur  Telp. (022) 250 3536
- Utari Hotel Jl.Dago Telp. (022) 420 6810
- Cemerlang Hotel, Jl. Pasirkaliki
- Guci Hotel Jl. Pasir Kaliki

- Casa d' Ladera Jalan Setia Budi (depan UPI) (022) 2009059-Rp 300.000-600.000

 

Rekomendasi penginap:

-Wisma Gandapura di Jl. L.L.R.E. Martadinata 120 (Riau), tempatnya bersih. Room rate mulai dari 120rb. Booking weekend jauh2 hari coz djamin pinuh euy.

-Sangkuriang Home Stay, Jl. Sangkuriang no. 11 Telp. 022-2502169. Dijamin aman, soalnya di seberangnya ada kantor polisi Coblong :D. Ratenya kalo ga salah mulai dari 100rb double bed. Sekitar 5-10 menit jalan kaki dari simpang dago. Kalo rute angkot, dari stasiun bandung naik angkot Cisitu Tegallega (warna ungu), yg ke arah cisitu, turun di Kantor camat Coblong.

-HOTEL BUKIT DAGO, rate nya dari Rp 100 rb, dapet sarapan.

-Cassadua Guest House ( www.cassadua. com ) 100 meter tol pasteur rate Rp 75.000, 125,000 sd 200 ribu, 40 kamar fasilitas lengkap. Telp. 022 2005822

-Hotel Gemilang Rate 120 ribu, 11 kamar , Jl. Surya Sumantri 10
-Hotel Ilos Jl. Babakan Jeruk, samping ASTRA, 20 rooms, Rp 250 ribu
-Hotel Cherry Homes (www.cherryhomes.com) Jl. Babakan Jeruk VII, 60 rooms, Rp 250 ribuan
-Hotel Chrysanta Jl. Pasteur 33, 40 rooms, Rp 200 ribuan
-Hotel Catelia Jl. dr. Rum, 20 rooms, Rp 100 ribu
-Hotel Selekta Jl. Pasirkaliki, 20 rooms, Rp 100 ribuan
-Hotel Mutiara Jl. Kebon Kawung, Rp 200 ribuan
-Hotel Serena Jl. Marjuk 4 (depan stasion KA), Rp 200 ribuan
-Hotel Famili Jl. Pasirkaliki, dibawah 100 ribu
-Hotel Nyland Jl. Pasteur, 200 ribuan
-Hotel Edelweis Jl. Sukajadi, 180 ribuan
-Losmen Guntur Jl. Oto Iskandardinata, 100 ribuan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...