Sabtu, 08 Desember 2012

Manusia Kolecer*

Banyak orang yang menganggap hidup di dunia ini penuh dengan kerumitan. Kalau Anda termasuk yang seperti itu, tidak ada salahnya sedikit "mengintip" falsafah hidup masyarakat Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjung Siang, Kabupaten Subang.

Masyarakat yang bermukim sekitar 70 kilometer sebelah Utara Kota Bandung ini mengibaratkan kehidupan seperti sebuah kolecer (baling-baling). Mainan tradisional yang berputar dan mengeluarkan bunyi ketika angin berhembus. Permainan ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di sana. Abah Suminta (68), tetua di kampung itu menuturkan, kolecer menggambarkan satu putaran kehidupan manusia di dunia. Ada kalanya hidup di atas dan ada kalanya hidup di bawah.

Kolecer terbuat dari bambu dan kayu yang berbentuk huruf "T".


Bagian horizontalnya akan berputar jika tertiup angin dan bisa mengeluarkan suara seperti degungan ribuan tawon kalau angin cukup besar. "Menantang angin itu seperti menantang diri kita sendiri," kata Suminta di sela-sela prosesi doa syukur Festival Kolecer 2008 yang dibuat bersamaan dengan hajat lembur atau pesta rakyat, Jumat (2/1) lalu.


Selain doa, pembukaan prosesi hajat lembur menyertakan sejumlah penganan, tumpeng, umbi-umbian, leupeut (nasi yang dibungkus dengan daun pisang), ketupat (nasi yang bungkusnya berbentuk kubus terbuat dari anyaman janur kelapa), dan berbagai makanan khas kampung lainnya.

Setiap hidangan memiliki arti. Misalnya, kata Suminta, dua leupeut yang diikat tali menjadi satu merupakan gambaran Yang Maha Penguasa dalam menciptakan segala sesuatu di dunia ini berpasang-pasangan.

Ketupat , ungkap dia, menggambarkan empat arah mata angin yang memiliki satu sumber kekuatan di bagian tengahnya. Petuah bijak yang bisa diambil adalah manusia harus bisa menunjuk salah satu arah mata angin dengan kekuatan batin untuk kehidupan yang akan dihadapinya. Sedangkan umbi-umbian, digambarkan sebagai bekal manusia ketika hidup di dunia.




Makna Nama

Masyarakat yang sudah berkumpul di tengah-tengah kampung juga mengikutsertakan tiga kolecer terbuat dari kayu jati yang diameternya lebih dari lima meter. Usai doa bersama, tiga kolecer dan penganan diarak keliling kampung dan berhenti di lapangan yang pada salah satu sisinya sudah ada tiga tiang bambu, yang menanti dipasang kolecer.

Beberapa detik setelah dipasang, hujan turun dengan lebatnya. Hujan yang turun pada saat prosesi hajat lembur dan ngadegkeun kolecer (mendirikan baling-baling) adalah pertanda baik. Masyarakat pertanian menganggap kolecer hanya bakal dipasang saat musim angin Barat.

Semakin kencang anginnya, semakin kencang putaran dan suara yang dihasilkan kolecer. "Ada kepuasan batin," ungkap Tahwat (53), warga asli Cibuluh yang menggemari kolecer sejak berusia di bawah 10 tahun.

Secara teknis, kolecer yang baik terbuat dari kayu pilihan, sehingga tidak mudah patah. Selain kayu jati, kayu yang sering dijadikan kolecer adalah kayu tisuk, kayu bihbul, kayu surilem, kayu bang bik, dan kayu padok.

Untuk bagian batang dan tiang, terbuat dari bambu gombong (bambu besar). Batang kolecer biasanya berbentuk segitiga yang dihiasi. Masing-masing bagian mempunyai nama. Bagian depan disebut pongpok (kunci) kolecer pada poros (bangbrang), jajabik (hiasan dari bilik bambu), bangbayang (badan kolecer), solobong, bubuntut dan tiang.

Nama-nama itu mempunyai arti tersendiri. Misalnya, pongpok mengandung arti, bagaimana manusia bisa mengunci roda kehidupannya agar tidak melenceng. Bubuntut mengandung arti bagaimana manusia mengendalikan jalan kehidupannya. Sedangkan, jajabig mengambil bagian kehidupan kita yang selalu dihiasi berbagai hal yang bersifat duniawi.

Pesan lainnya juga tergambar dari jumlah batang kolecer. Apabila dua, bermakna pada kesadaran bahwa kehidupan berasal dari dua orang manusia. Bertambahnya usia anak, bertambah juga jumlah batang kolecer.

Memasuki usia dewasa, biasanya kolecer dipasang di atas kayu yang lebih tinggi dan jumlah batangnya menjadi tiga. Dipercaya itu sebagai gambaran atau pemaknaan dari tiga alam di masyarakat Sunda, yakni Buana Larang (alam bawah), Buana Panca Tengah (dunia tengah), Buana Nyungcung (dunia atas).
Filosfi Permainan

Mohamad Zaini Alif, seorang peneliti permainan anak tradisional dari Komunitas Hong menyebutkan papat kalima pancer adalah cara pandang dunia dalam masyarakat Sunda yang erat hubungannya dengan kesadaran kosmologis. Sederhananya, kata dia, kehidupan antarmanusia sebaiknya dijalin sama baiknya dengan hubungan ke Sang Pencipta. Menurut pria yang memiliki nama panggilan Jae ini, setiap permainan yang ada sebaiknya melatih kepekaan manusia. Dia merunut pada ajaran Sunda yang mengungkapkan ingsun dina dada (diri kita ada dalam dada atau hati).

"Sadar atau tidak, orang yang tinggal di kampung, rasa empatinya lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang hidup di kota," tuturnya.

Dijelaskan, biasanya kolecer dimainkan di pematang sawah untuk mengusir burung, tetapi bunyinya dianggap bisa menyenangkan leluhur yakni Dewi Sri (Hyang Pohaci), sehingga padi menjadi subur. Tapi kepercayaan itu telah luntur dan menyebabkan kolecer tidak lagi digunakan untuk keperluan itu.
Mengenai biaya pembuatan kolecer, Tahwat mengaku dirinya rela mengeluarkan uang hingga Rp 2 juta untuk satu buah mainan tradisional itu. "Ini murni kesenangan batin. Penampilan juga indah. Suaranya merdu gitu lho," sambung guru sekolah dasar di SD Cibuluh ini.

Jae menyebut filosofi dalam permainan tradisional itu sudah ada sejak abad ke-15. Hal itu, dia temukan dalam naskah abad ke-15 Saweka Darma Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung yang menyebutkan tentang hempul. Hempul adalah orang yang mengetahui aturan permainan, cara membuat, dan filosofi permainan. Namun, kini hempul sudah punah. Tidak ada masyarakat adat di Jawa Barat (Jabar) yang memiliki hempul.

Permainan kolecer bukan sekedar dibuat. Malah dari mainan itu, manusia bisa bersosialisasi, mengatasi kesepian, mengatur keseimbangan otak, dan saling bekerja sama. [SP/Adi Marsiela]

*Pindahan tulisan dari Multiply yang dimuat tanggal 11 Februari 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...