Jumat, 22 Juni 2007

Isu Kesehatan di Media Massa Kurang Informatif

[BANDUNG] Pemberitaan isu kesehatan di media massa sebaiknya bersifat informatif dan tidak menimbulkan kepanikan. Umumnya, media massa baik di Indonesia atau negara lainnya tidak memperhitungkan dampak negatif dari sebuah pemberitaan kesehatan yang bombastis atau sensasional.

 

Hal itu terungkap dalam Kuliah Umum Strategi Pengelolaan Isu Flu Burung dan Penyakit Menular Lainnya Sesuai dengan Standar Internasional di Ruang Serba Guna Universitas Padjadjaran, Bandung, Kamis (21/6). Pembicara tunggal dalam acara tersebut adalah konsultan Centers for Diseases Control and Prevention, Dan Rutz, Master of Public Health.

 

Mantan koresponden kesehatan di kantor berita CNN ini menuturkan, pengelolaan isu kesehatan haruslah mengedepankan kepentingan publik, cara-cara melindungi diri mereka dari suatu penyakit, serta turut menyadarkan masyarakat tentang pentingnya penatalaksanaan kesehatan diri dan lingkungan.

 

“Gunakan data ilmiah dari narasumber yang kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” sambung dia.

 

Hal terpenting, kata Dan, dalam mengelola isu kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Dia juga menyadari setiap media massa pastilah berusaha membuat pemberitaannya tetap menarik.

 

Dia mencontohkan sebuah kasus mengenai dampak flu burung di Nigeria yang sempat diangkat oleh kantor berita Reuteurs. Dalam pemberitaannya, disebutkan sejumlah maskapai asing tidak akan mengambil persediaan makanan dari Nigeria. Hal ini diakibatkan adanya isu flu burung.

 

“Bayangkan, Nigeria itu negara miskin, kalau hal ini terjadi maka potensi pemasukannya akan berkurang,” ungkap dia.

 

Menurut dia, sebelum menurunkan sebuah berita yang terkait dengan isu kesehatan, media massa jangan hanya melihatnya sebagai sebuah fakta yang bsia diolah menjadi berita sensasional. “Pertimbangkan dampaknya. Contoh tadi bisa berkembang sampai mengganggu perekonomian suatu negara.”

 

Untuk mengatasi hal seperti itu, Dan menghimbau pelaku media memahami terlebih dahulu dimensi dari isu yang akan diangkatnya. “Pelajari bagaimana karakteristik masyarakat yang mungkin mengkonsumsi berita itu. Sikap empati sangat penting dan selalu lakukan verifikasi atas segala data dan fakta yang ada,” jelasnya.

 

Terkait dengan peranan pemerintah, dia menjelaskan, media harus menempatkannya sebagai mitra dalam mencapai tujuan bersama. Pada masalah ini, tujuannya adalah menuntaskan penyebaran penyakit. Pasalnya, masalah kesehatan itu bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah saja, melainkan semua pemegang kepentingan.

 

“Pemerintah, media massa, dan masyarakat terlibat di dalamnya. Harus saling mendukung. Pemerintah juga jangan bersikap tertutup apabila memang ada pernyataan atau pemberitaan yang tidak sesuai. Semua ini demi kepentingan publik,” kata Dan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...