Kamis, 21 Juni 2012

Dunia Menanti Ratu Bersalin

-->
Pemerintah Indonesia sedang bersiap menanti sebuah kelahiran ‘besar’ dari Ratu, seekor badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) betina yang hidup di Sumatran Rhino Sanctuary (SRS), Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Tidak hanya Indonesia, kelahiran Ratu ini dinanti-nanti oleh masyarakat dunia, khususnya para pemerhati satwa liar. 

Kehamilan Ratu yang usianya diperkirakan antara 11-12 tahun ini merupakan anugerah. Kehamilan ini merupakan yang paling tinggi potensinya untuk kelahiran sejak SRS dibangun pada tahun 1997 silam.

Foto Ratu dari Yayasan Badak Indonesia
Dokter hewan dari SRS, Eliza Jinata mengatakan, usia kehamilan Ratu saat ini sudah memasuki bulan ke-14. Umumnya, masa kehamilan badak itu antara 15 hingga 18 bulan. “Makanya sekarang observasi terhadap Ratu ditambah dengan menggunakan empat kamera, Dua di kandangnya, dua lagi di kubangan dan perlintasan badak,” kata dia di Bandung, Kamis (24/5).

Saat ini di SRS, tempat penangkaran badak yang terbilang semi alami itu dihuni oleh empat ekor badak Sumatera. Masing-masing, Andalas (10 tahun), Bina (27 tahun), Ratu dan Rosa. Andalas yang dilahirkan pada tanggal 13 September 2001 di Kebun Binatang Cincinnati, Amerika Serikat merupakan satu-satunya badak jantan yang tinggal di kawasan seluas 100 hektare itu. 

Badak suka berendam di lumpur.
Sebelumnya ada Torgamba, pejantan yang diharapkan dapat kawin di sana dengan Bina serta Dusun.Namun Dusun mati pada tahun 2001 dan Torgamba menyusul pada tahun 2011 lalu.
Kehamilan ini menjadi kabar gembira di tengah keberadaan badak Sumatera yang terancam punah seperti kerabatnya badak Jawa. 

 Dokter hewan lulusan Universitas Airlangga itu memaparkan, populasi badak Sumatera diperkirakan tinggal 200 ekor yang hidup liar di wilayah Indonesia dan Malaysia. “Kalau di kawasan Way Kambas itu mungkin ada sekitar 20 ekor yang hidup liar di luar empat yang ada di SRS,” kata Eliza.

Hingga saat ini, ungkap dia, baru ada tiga kelahiran badak Sumatera yang sukses di dunia.
Ketiga-tiganya adalah kelahiran badak Sumatera dari pasangan Emi dan Ipuh yang ada di Kebun Binatang Cincinnati, Amerika Serikat. Kedua badak itu merupakan badak Sumatera hasil tangkapan dari kawasan Bengkulu, sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat. Kedua badak itu dikirim ke Kebun Binatang Cincinnati Amerika karena keberhasilannya melakukan pengembangbiakan pada spesies badak lain.

Badak menggunakan ujung mulutnya yang seperti belalai untuk menarik daun.

Andalas merupakan anak pertama dari pasangan itu. Kelahiran Andalas merupakan badak Sumatera pertama yang lahir di kebun binatang dalam waktu 112 tahun sejak kelahiran badak di Kebun Binatang Kalkuta, India tahun 1889 silam. 

Keberhasilan itu berlanjut dengan kelahiran Suci, adik Andalas pada tahun 2003. Pada tahun 2007 lalu, pasangan itu melahirkan anak ketiganya yang diberi nama Harapan. “Jika kelahiran dari Ratu sukses maka ini akan jadi yang pertama di Indonesia atau yang ke-empat di dunia,” terang Eliza.

Sebelumnya, sambung dia, Ratu sudah dua kali mengalami kehamilan namun keguguran. Untuk menjaga proses kehamilannya kali ini, Ratu diberikan tambahan protein dan hormon.

“Tim kami juga melakukan pemeriksaan dengan USG sehingga terpantau sampai saat ini janinnya baik. Detak jantung normal, cairan amnion atau mirip ketuban di manusia juga ada. Jadi dipantau terus. Kita malah ada beberapa skenario yang sudah disiapkan terkait proses persalinannya nanti,” kata Eliza.

Tim SRS juga mendapatkan bantuan dari orang asing yang sudah berhasil menangani persalinan badak. Beberapa di antaranya adalah Benn Bryant dari Taronga Western Plains Zoo Australia; Paul Reinhart – keeper yang menangani kelahiran tiga anak badak Sumatera di Kebun Binatang Cincinnati, Amerika; Susi Ellis dari International Rhino Foundation, dan Bibhab K.Talukdar dari Asian Rhino Specialist Group.

Badak Sumatera paling kecil ukurannya dari lima spesies badak yang ada di dunia. Secara umum, badak dibagi ke dalam dua kelompok, badak Asia dan Afrika.

Penglihatan badak tidak sebaik indera penciumannya. Jika dikejar badak sebaiknya mencari pohon dan naik ke atasnya.

Badak Afrika ada dua jenis yang hitam dan putih sedangkan badak Asia yang masih hidup adalah badak Sumatera, badak Jawa, dan badak India. Berbeda dengan kerabatnya di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang bercula satu, badak Sumatera memiliki dua cula. “Tapi ukurannya kecil tidak seperti badak Afrika yang bisa mencapai setengah meter,” terang Eliza yang berharap populasi badak Sumatera bisa bertambah seperti badak India yang juga ‘diselamatkan’ lewat program zona penyangga konservasi. [SP/Adi Marsiela]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...