Tampilkan postingan dengan label pameran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pameran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Juni 2008

Basa-Basi Saudara Tua


“…Pada saat itu, aku agak merasa malu. Terus terang saja, aku tak pernah merasa ini. Aku malu dan dengan terus terang memandang Indonesia dengan enteng. Kumohon maaf…”

Demikianlah pengakuan Toyoshima Hideki, Direktur Graf Media GM dari Jepang yang melakukan survei buat pameran “KITA!!: Japanese Artist Meet Indonesia”. Ini merupakan kedatangan pertamanya ke Indonesia.

Sebelumnya, Hideki yang menerima tugas dari Japan Foundation untuk menjadi kurator di pameran tersebut menganggap di Indonesia tidaklah banyak ruang seni dan kebudayaan.

Kenyataannya, survei di Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta menunjukkan hal yang berbeda. Dalam kesempatan bincang-bincang di Bandung, beberapa waktu lalu, dia mengaku menemukan banyak ruang seni dan budaya dengan berbagai ukuran. Setiap tempatnya menunjukkan prinsip dan warna tersendiri dengan jelas. Hal ini jugalah yang membuatnya menuliskan permohonan maaf dalam pengantar kurasinya.

Sabtu, 15 September 2007

metissages

Start:     Sep 21, '07
End:     Oct 21, '07
Location:     Selasar Sunaryo
A crossbreeding of contemporary art and textiles. Curated by Yves Sabourin (Delegasi Seni Rupa, Departemen Kebudayaan dan Komunikasi) bakal mampir ke Indonesia. Pameran ini berisi 52 karya koleksi French National Fund of Contemporary Art dan koleksi pribadi. Tenun, sulaman, tatahan, aplikasi, dan lilitan. 7 karya yang mewakili tekstil Indonesia juga turut dipamerkan.
Selasar Sunaryo Sunaryo Art Space-21 September sampai 21 Oktober 2007
Museum Nasional, Jakarta-8-23 November 2007
Opening Friday, 21 September 2007 at 8 pm

Selasa, 04 September 2007

Memaknai "Kesalahan" sebagai Keindahan

Tentara di Indonesia ternyata bisa tampil bercahaya dan glamour juga. Tidak ada kesan menyeramkan atau galak sebagai barisan depan penjaga pertahanan negara. Kesan itu bukan hilang oleh senyuman, melainkan warna-warni yang ada padanya.

Mulai dari raut wajah sampai baju lorengnya berubah warna. Sebut saja warna putih, biru, merah, orange, dan lainnya yang membentuk garis karakter wajah, tubuh, seragam, dan senjatanya. Tentara seperti ini hanya ada dalam alam pikiran Beatrix Henriani Kaswara.

Beatrix merealisasikan imajinasinya lewat lukisan berjudul Indonesian Army #2. Tidak hanya satu, Beatrix yang akrab dipanggil Bex itu, memainkan "tentara" lewat tiga karyanya yang berjudul sama, hanya berbeda nomor urut. Bagian latar dan sebagian besar bidang lukisan berwarna gelap merata, tanpa kedalaman. Ini adalah upayanya untuk lebih menonjol warna-warni tadi.

"Satu sisi saya bangga dengan tentara, tapi ada di sisi lain kecewa," ujar Beatrix singkat mengomentari karya-karyanya yang dipajang bersama 19 lukisan karya Dadan Setiawan, Dikdik Sayahdikumullah, Harry Cahaya, Iman Sapari, J Ariadhitya Pramuhendra, dan Willy Himawan di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung dalam pameran bertajuk errata-optika. Pameran ini berlangsung sejak Jumat (24/8) hingga Jumat (14/8) nanti.

Bex mengaku tiga karya itu merupakan pencapaian tercepatnya dalam berkarya. Sebelum melukis, dia terlebih dahulu memilih foto tentara dan mengolahnya lewat peranti lunak di komputer.

"Pakai Adobe Photoshop, terus dengan (efek) Glowing Edge. Baru dilukis ulang," papar dia menerangkan caranya melukis tentara-tentara yang 'menyala' itu.

Gaya lukisan realisme seperti ini yang menjadi benang merah dalam pameran tersebut. Semua karya pameran berasal dari sebuah pencitraan lewat teknologi (optik) yang sudah diolah terlebih dahulu baru dilukis memakai acrylic, cat minyak, dan arang ke dalam berbagai ukuran kanvas.

Beberapa figur terkenal-sayangnya tidak menggunakan profil tokoh kekinian-juga tidak luput dari pencitraan ini. J Ariadhitya Pramuhendra alis Hendra memakai pemburaman dalam menggambarkan Paus Yohanes Paulus II, John Lennon-Yoko Ono, dan Marilyn Monroe. Tapi, biar diburamkan, orang pasti mengetahui siapa yang ada di lukisannya.

Agung Hutjanikajenong kurator pameran menyebutkan karya-karya Hendra mengangkat kenangan masa lalu yang pada saat bersamaan misterius. Meskipun demikian, karya Hendra sekaligus juga auratik.

Karya berjudul And Conclude this to Memorize Me yang menggambarkan prosesi sakramen komuni yang dipimpin oleh Paus Yohanes Paulus II dianggap mewakili semua hal yang diungkapkan Agung.

"Sekilas seperti gagal namun tetap impresif," ujar Agung.

Berbeda dengan Bex dan Hendra, Harry Cahaya lebih mengangkat tema alam dalam karyanya yang berjudul Seescope #4. Dia mengambil citraan air laut beserta riaknya. Warna air bagi Harry tidak menjadi masalah, mau hijau, kuning, biru, atau merah. "Jadi laut bukan sebagai objeknya, tapi nuansa yang ada di sana," paparnya.

Tenang dan Teduh

Memang ketika memandangi Seescope #4 yang dilukis dengan cat minyak dan berukuran 285 X 145 centimeter itu, ada rasa tenang dan teduh di mata. Apalagi lukisan itu dipajang sendirian di lorong perantara pada tempat pameran.

Sayangnya, dari tujuh pelukis yang menghadirkan karyanya dalam pameran ini, hanya Willy Himawan yang berani keluar dari area kenyamanannya. Dia mengambil objek dari televisi- Motion and Stillness-dan juga sebuah buku- On Page 9. Dikdik Sayahdikumullah, peserta pameran paling senior sekaligus dosen di kampus Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung tidak juga keluar dari zona itu.

Dikdik "terjebak" mempresentasikan Sweet Deception dan Red Ad Hoc, gambaran dari balik kaca mobil saat basah tersiram hujan. Yang berbeda hanyalah objek di depan kaca itu.

Meski demikian, Red Ad Hoc dengan lampu-lampu belakang mobil yang biasanya baru kita perhatikan saat berkendara. Efek air yang memendarkan lampu-lampu itu memberikan pengalaman baru bagi yang biasa melihat suatu objek dalam bentuk pastinya.

Kecermatan Dikdik memanfaatkan refraksi cahaya, warna, dan bayangan pemandangan disajikannya lewat Sweet Deception. Ketidakjelasan selain warna hijau yang mendominasi menjadikan gaya realisme itu menjadi sebuah cara baru menikmati lukisan. Tidak dosa juga rasanya memandang karya itu sebagai sebuah lukisan surealisme.

Pameran ini, kata Agung, ingin memperlihatkan orientasi baru yang ditunjukkan oleh sejumlah seniman Bandung-yang semuanya berasal dari kampus yang sama-dalam mengolah dan menampilkan rupa realistik.

"Gambarnya kurang hidup kalau hanya membesarkan hasil foto. Makanya dilukis lagi," ujar Bex mengomentari alasannya melukis.

Lukisan-lukisan yang digambar dengan mengkopi realitas itu menunjukkan usaha seniman untuk "merebut" kembali persepsi yang sebenarnya sudah bisa diwakilkan oleh mesin seperti kamera dan mesin fotokopi.

"Dengan adanya realitas artifisial (buatan) maka penginderaan manusia diperpanjang. Kalau hanya memotret atau fotokopi, kita menikmati dan menghayati cara mesin di jaman seperti ini," ungkap Guru Besar Filsafat Universitas Parahyangan Bambang Sugiharto saat membuka pameran tersebut.

Oleh karena itu, Bambang berpendapat harus ada langkah lebih lanjut dari kegiatan ini sampai ke teoritisasi. Pameran ini cukup menjanjikan. [SP/Adi Marsiela]

Published: 31/8/07

Kamis, 09 Agustus 2007

Eksplorasi Figur Tiga Perupa

Wajah manusia dan sosoknya selalu menjadi objek menarik bagi pelukis untuk menyalurkan ekspresinya. Baik itu dengan meminjam rupa, sosok orang lain atau wajah perupanya sendiri. Terkadang pengalaman, harapan, dan kegelisahan yang dialami perupa menjadi inspirasinya dalam mengeksplorasi figur.

Tiga perupa yang mengenyam pendidikan seni lukis di Bandung secara berani mengungkapkannya dalam pameran lukisan Explosive Figurative yang digelar di Galeri Rumah Teh, Bandung mulai 14 hingga 21 Juli 2007. Mereka masing-masing adalah Yanas, Qoyim Bana Nasution, dan Muharlia Umar (Muhar).

Semangat pemberontakan dan pembaruan yang pernah populer oleh 'flower generation" di era 1960-an menjadi salah satu inspirasi yang mencuat dalam pameran ini.

Sebut saja Jimi Hendrix yang tampil dengan sesosok perempuan berwarna putih dengan rambut kuningnya yang terurai panjang. Nilai-nilai perlawanan Jimi terhadap wajib militer yang dahulu diterapkan oleh Amerika terlihat jelas dalam lukisan pakaian yang dikenakannya. Sosok perempuan itu sendiri lebih mewakili isu gender yang mencari perhatian publik dalam karya berukuran 150 x 120 cm itu.

Dia tidak sendirian. Joan Baez, Janis Joplin, dan Maharesi Mahisa Yogi yang eksis pada kurun waktu yang sama turut hadir dalam pameran ini. Benang merah dari beberapa lukisan figur ini ditandai dengan adanya pola praba mandala yang dalam bahasa Sansekerta adalah lingkaran. Penggunaan praba mandala dalam keempat lukisan itu sebagai sebuah pusat untuk meditasi atau harapan akan pencerahan.

"Saya menyenangi seni lukis dan juga musik," kata Yanas, sang perupa jebolan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia menerangkan karyanya.

Selain itu, ungkap dia, figur pemusik atau Maharesi yang pernah dijadikan guru spiritual oleh grup musik The Beatles itu untuk mendekatkan orang awam dengan karya-karyanya yang menggunakan cat minyak.

"Saya ingin sesuatu yang greget. Pengaruh dari tahun 1960-an itu saya percaya masih bisa langgeng sampai ke depannya," terang dia.

Aroma surealis juga merebak dalam pameran ini. Setidaknya, Qoyim menggunakan genre itu untuk mengekspresikan kegelisahannya akan kehidupan. Dia meminjam rupanya sendi- ri untuk menjelaskan hal tersebut.

Lihat saja karyanya yang bertajuk Keenness. Dalam lukisan berukuran 150 x 120 cm yang diseting vertikal, sang perupa tampak telanjang dada dan menengadah ke angkasa. Berusaha menerawang dan mencari keseimbangan dalam hidupnya. Falsafah hubungan hidup harus terjalin dengan baik ke Sang Pencipta dan ke sesama, dia rupakan dalam jalinan tangan yang berbentuk segitiga di depan matanya.

Dalam pencariannya itu, Qoyim tampil seadanya. Dia hanya mengenakan sepasang sepatu kets dengan rambut panjangnya yang dibiarkan terurai. "Realitas dan mimpi itu hal yang menarik," kata dia memaparkan konsep dasar karyanya.

Eksplorasinya tentang mimpi juga ditampilkan dalam Shirathal mustaqim (ke-Jalan yang lurus). Dalam lukisan berukuran 165 x 95 cm ini, Qoyim menempatkan diri sebagai objek yang tengah mencari kebenaran. Dia seakan bermimpi dan berada di atas sebuah ruas jalan yang berwarna-warni. Dia melihat dirinya yang lain di bawah tengah jongkok, sementara dirinya yang berjalan masih belum mengetahui tujuan akhir dari jalanan itu.

Pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan setelah kematian dia jawab dengan menggunakan imajinasi. Menurutnya semenjak kanak-kanak, dia hanya bisa ingat bahwa rasa aman itu datang dan diperoleh jika dirinya kehilangan kesadaran atas segala sesuatu yang dianggap sebagai realitas. Mimpi salah satu pelariannya.

Kekinian juga hadir dalam pameran ini. Perupa yang menggunakan lambang kekinian itu adalah Muharmalia Umar alias Muhar. Karya-karya Muhar didominasi oleh teknik fotografi yang direpro melalui komputer, sebelum akhirnya dia lukiskan di atas kanvas. Pop art, demikian dia menyebut gaya lukisannya. Namun benang merah figur yang menjadi bagian dari judul pameran ini tetap tampil.

Dia memandang dirinya sebagai objek karena tidak ingin mengangkat kebaikan atau keburukan orang lain. "Saya tidak mau menghakimi orang lain, makanya menggunakan citra saya," papar dia.

Muhar tampil dalam beragam gaya, misalnya dia sedang mengayuh sepeda, duduk di kursi, sampai ketika dia tengah memakai payung. Tapi bukan berarti tidak ada yang ingin disampaikannya. Misalnya, lukisan berjudul Dissappoint yang terdiri atas tiga buah lukisan vertikal.

Masing-masing lukisan memiliki kesamaan objek. Muhar yang tengah menggunakan payung. Dalam karya ini, dia sengaja mengambil siluet hitam yang terbangun dari dirinya dan payung. Yang berbeda hanya goresan warna cat serta pola yang ada pada bagian latarnya.

Mungkin itu tanda kekecewaannya terhadap seseorang yang selalu memandang dirinya hanya dari bagian luar. Padahal setiap orang pastilah memiliki sesuatu yang berbeda dan bahkan di luar bayangan kita sebelumnya. Bayangan di luar kenyataan itu dia citrakan dengan pemilihan warna seperti merah, hijau, dan putih. Tidak lupa, dia juga selalu mencantumkan barcode atau identitas diri layaknya sebuah makanan dalam kemasan yang diproduksi massal.

Kurator Galeri Rumah Teh, Isa Perkasa mengatakan pameran ini menawarkan sebuah narsisme berupa eksplorasi figur secara fotografis yang berbeda. Dia mencontohkan Agus Suwage, Hendra Gunawan, Affandi, atau S Sudjojono yang menitikberatkan pada peminjaman potret dirinya atau tubuh telanjangnya guna menyampaikan pesan yang menggelitik.

"Karya-karya perupa ini cenderung menghadirkan ulang pose-pose dari sebuah potret dengan penggubahan pada latar, sehingga tawaran fotografis lebih menonjol," ungkap Isa. [SP/Adi Marsiela]

published: 24/7/07

Refleksi Abu-abu Kehidupan Manusia

Estetika bukan nilai utama yang dicari dalam pameran ini. Nilai kritis dan refleksi kehidupan merupakan hal yang lebih berharga. Kehidupan yang serba dinamis seringkali membuat manusia kurang memperhatikan kondisi sekitarnya.

Setiap individu berusaha memenuhi kebutuhannya masing-masing. Andaikan ada interaksi sosial di antaranya, tidak lain untuk menegaskan bahwa sebenarnya manusia itu adalah makhluk sosial yang harus bergantung dengan orang lain dalam menjalani hidup ini.

Seringkali manusia atau individu-individu itu berjalan sendiri-sendiri. Interaksi yang didorong pemenuhan kebutuhan hidupnya terkesan samar-samar. Karena pada ujung-ujungnya, setiap individu pasti menginginkan timbal balik saat melakukan interaksi sosial.

Arief Tousiga seorang pematung lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Ins- titut Teknologi Bandung (FSRD ITB) mencoba menyentuh aspek dasar kehidupan itu lewat tujuh buah patung berwarna abu-abu dalam pameran Konstelasi Abu-abu yang digelar semenjak Selasa (24/7) hingga Selasa (31/7) lalu.

Uniknya, setiap patung pameran ini tidak digelar hanya dalam satu ruangan melainkan enam ruangan berbeda yang terpisah cukup jauh satu dengan lainnya.

Namun setiap ruang yang dia pilih merupakan tempat umum yang dapat dikunjungi secara bebas, mulai dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jl Ir H Juanda, gerai makanan cepat saji Mc Donald's Setiabudi, perpustakaan FSRD ITB, factory outlet Cascade di Jl RE Marta-dinata, dan Apotik Kimia Farma di Jl Braga.

"Kalau yang di Selasar Sunaryo itu sudah umum. Namanya juga galeri seni," ujar Arief.

Tampaknya sang perupa memang sengaja memilih tempat-tempat itu. Bukanlah sebuah hal yang aneh ketika kita duduk, berdiri, memesan makanan di restoran cepat saji, kita akan kembali ke kursi dan menghabiskan makanan. Kehadiran orang lain di tempat tersebut hanya menjadi sebuah "penghias" bagi mereka yang tengah berusaha memenuhi kebutuhan perutnya, makan.

Hal yang sama terjadi juga di perpustakaan, apotek, dan juga tempat lainnya.

Pemerhati budaya pop Yasraf Amir Piliang menilai Arief tengah mempersoalkan kebertakberjarakan yang mengasingkan manusia dari derajat keintiman di dalam abad informasi sekarang ini.

"Jangan-jangan orang yang duduk di sebelah kita itu tak lebih dari pa-tung-patung, yang tidak intim dengan kita," terangnya.

Patung karya Arief memang mengambil citra manusia seperti dalam kesehariaannya. Ukurannya satu berbanding satu dengan ukuran manusia. Hanya warnanya saja yang berbeda, abu-abu.

"Hal itu sebenarnya untuk menghindari kontro-versi," katanya berterus- terang.

Masing-masing patung itu mencoba memberikan makna dan nilai yang mendalam kepada setiap mereka yang melihatnya. Sebagai contoh saja, Arief sampai memasang tulisan "Jangan Disentuh" pada patungnya yang ada di restoran cepat saji. Patung itu sudah sempat patah jari-jari tangannya karena dipermainkan oleh anak-anak yang datang ke sana.

Namun Arief memaklumi hal tersebut. Pasalnya, restoran cepat saji itu memang sudah memiliki ikon dalam bentuk patung yang cukup menarik bagi anak-anak. Ronald Mc Donald's, nama ikon itu. Bedanya, patung milik Arief berpakaian seperti orang pada umumnya. Patung itu duduk santai seperti layaknya pelanggan yang tengah menyantap kentang goreng dan hamburger.

Beda lagi patung yang disimpannya di apotek. Mereka tampak sangat nyata dari bagian belakang. Bagaimana tidak, Arief mencitrakan karyanya seperti dua orang perempuan yang saling bercakap-cakap lengkap dengan satu patung yang memegang telepon seluler.

Aspek berkesenian dari Arief sebenarnya bukanlah patung-patung itu. Mereka hanyalah pemicu. Kurator pameran Heru Hikayat menjelaskan pameran tersebut membidik seluruh peristiwa di lokasi bersangkutan. Penempatan patung-patung itu diyakini dapat mengundang reaksi dari orang-orang yang kebetulan ada atau lewat pada beberapa lokasi tersebut.

"Reaksi-reaksi mereka yang melihat patung itu yang menjadi penting buat saya. Sayangnya, saya tidak bisa mendokumentasikan itu semua," ungkap Arief.

Proyek yang digarap dalam waktu tiga tahun ini memang dikerjakan secara rinci. Arief sangatlah memperhatikan berbagai unsur detail seperti pakaian, aksesoris, dan properti dari pameran. "Belinya juga menyicil."

Soal perjalanan seniman yang pernah ikut pameran bersama dalam "CP Biennale II 2005" dalam berkarya juga bisa dilihat dalam rangkaian foto dan video yang dipasang di galeri Selasar Sunaryo Art Space.

Secara umum pameran ini memang terasa sangat idealis. Semuanya dibuat melalui peniruan dari tingkah laku manusia dengan harapan bisa menimbulkan refleksi diri mereka yang melihatnya. Entah sampai tingkat mana refleksi itu bisa dicapai, karena memang harapan Arief mendapatkan sesuatu yang total itu adalah sebuah hal mustahil.

Namun demikian, pengamatan terhadap pameran ini menjadi sesuatu yang bisa dibilang berhasil. Lihat saja patung-patung yang rusak karena dipermainkan oleh anak-anak atau kegiatan berfoto bersama dengan patung oleh orang-orang yang melihatnya. Ini sebuah pengakuan bahwa sebe- narnya, karya itu diakui keberadaannya.

Menurut Heru keberadaan orang di ruang tunggu apotek menjadikan mereka memusatkan perhatiannya pada hal yang dia tunggu. Namun dengan adanya patung tersebut, maka kegiatan menunggu dapat berubah menjadi sebuah pengalaman yang berbeda, terutama kalau kita kemudian mengabadikannya lewat kamera.

"Proses menunggu itu menjadi menonton. Kita melihat citra kita sedang menunggu," paparnya.

Semoga saja melalui karya ini, Arief bisa menyadarkan (minimal) orang-orang yang melihat karyanya bahwa kehidupan itu memang seringkali terasa datar. Tapi karya seni tidak akan pernah membiarkannya begitu. [SP/Adi Marsiela]
Published: 7/8/07

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...