Kamis, 21 Juni 2012

Dunia Menanti Ratu Bersalin

-->
Pemerintah Indonesia sedang bersiap menanti sebuah kelahiran ‘besar’ dari Ratu, seekor badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) betina yang hidup di Sumatran Rhino Sanctuary (SRS), Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Tidak hanya Indonesia, kelahiran Ratu ini dinanti-nanti oleh masyarakat dunia, khususnya para pemerhati satwa liar. 

Kehamilan Ratu yang usianya diperkirakan antara 11-12 tahun ini merupakan anugerah. Kehamilan ini merupakan yang paling tinggi potensinya untuk kelahiran sejak SRS dibangun pada tahun 1997 silam.

Foto Ratu dari Yayasan Badak Indonesia
Dokter hewan dari SRS, Eliza Jinata mengatakan, usia kehamilan Ratu saat ini sudah memasuki bulan ke-14. Umumnya, masa kehamilan badak itu antara 15 hingga 18 bulan. “Makanya sekarang observasi terhadap Ratu ditambah dengan menggunakan empat kamera, Dua di kandangnya, dua lagi di kubangan dan perlintasan badak,” kata dia di Bandung, Kamis (24/5).

Senin, 18 Juni 2012

Bukan Cuma Pinokio yang Hidup

-->
Tupu tampak asyik sendiri. Mengenakan kupluk berkuping dan bergigi dua, Tupu tidak menyadari kehadiran seekor anjing abu-abu di dekatnya. Dia kaget begitu tahu posisi anjing sudah begitu dekat dari suara gonggongannya. Tupu berupaya menghalau anjing itu dengan mainannya.

Karena tidak berhasil, Tupu meniup peluit merah yang sehari-hari dia kalungkan di lehernya. Prittt, priiitt, priitt !!!
 

Moyo, sang kakak, keluar dari rumah dan membawa Tupu mendekat ke rumah. Anjing itu dia lempar dengan mainan Tupu. Usahanya berhasil, tapi Tupu menangis karena mainannya rusak.

Melihat adiknya sedih, Moyo pun berusaha menghiburnya. Kedekatan antara keduanya terlihat jelas saat Moyo berusaha merangkul adiknya. Pelan-pelan, Tupu melupakan tangisnya. Kegembiraan Tupu semakin menjadi saat Baba, sang ayah pulang dan membawakan balon merah untuknya.



Dekat rumah mereka tinggal Haki, yang memiliki seorang anak perempuan, Lacuna, yang selalu duduk di kursi roda. Sesekali Haki menyapa Tupu saat lewat di depan rumahnya. Mereka hidup berdampingan dengan mesra.

Jumat, 06 April 2012

Akanoma, an architecture firm anomaly

This article was published on Akarumput.com Part. 1 and Part. 2

“Love Indonesian Products, If Possible 100%”


 This message is written in chalk on a wall on the outside of the kitchen. The folding windows make the kitchen feel like a traditional warung (an Indonesian food stall). The glasses, pots, cutting board, kettle, and an irus, a traditional tool for mixing food from coconut husk, are arranged hanging above.
The warung vibe is even more complete with a long bamboo bench positioned outside the kitchen. Inside, discarded drink crates of yellow and red are arranged as storage space for kitchen spices and food.

The kitchen is located next to the main entrance to Akanoma Studio. Yu Sing Lim (35 years old) along with Benyamin Narkan, Anjar Primasetra, Peter Antonius, Iwan Gunawan, Wilfrid, and Yopie Herdiansyah use a joglo building (a traditional wooden Javanese building) as their main studio space. The joglo has been raised on stilts, similar to traditional house designs in Kalimantan.

 The walls of this traditional Javanese building have been modified. As opposed to the wooden walls normally used, they have installed window frames spliced together with colorful chipboard and glass nako. This material is used surrounding the entire joglo.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...