Kota Bandung Bermartabat-demikian slogan yang dicanangkan oleh Walikota
Bandung Dada Rosada untuk menyejahterakan sekitar 2,4 juta warganya.
Salah satunya adalah Elis Siti Khodijah (28) yang memiliki kebutuhan
khusus.
Perempuan yang tergabung dalam komunitas Bandung
Independent Living ini berusaha agar rekan-rekannya yang berkebutuhan
khusus berani keluar dari rumahnya. Minimal bersosialisasi.
Rabu, 19 Desember 2012
Rabu, 12 Desember 2012
Memacu Poni di Lembang*
Yadi Angga memacu Puma, kuda
tunggangannya mengelilingi lintasan pacu sepanjang 800 meter. Debu-debu
yang beterbangan dan menempel di hidung serta bibirnya tidak dia
pedulikan. Matanya terlindung di balik kacamata yang dia pakai.
Meski baru berusia 13 tahun dan berbadan paling kecil, Yadi berhasil mengungguli enam penunggang lainnya melintas garis finish. Setelah menerima piala dan hadiah uang, Yadi dan Puma diarak para pendukungnya meninggalkan arena pacuan. Mereka semua berjoget bersama sambil mendengarkan iringan lagu dangdut yang dimainkan langsung oleh tim kesenian kuda renggong.
Kejadian ini terus berulang di Lapangan Pacuan Kuda Kayu Ambon, Lembang, Kabupaten Bandung Barat dalam gelaran Kejuaraan Pacuan Kuda Tradisional Lembang, Minggu (24/8) lalu.
Meski baru berusia 13 tahun dan berbadan paling kecil, Yadi berhasil mengungguli enam penunggang lainnya melintas garis finish. Setelah menerima piala dan hadiah uang, Yadi dan Puma diarak para pendukungnya meninggalkan arena pacuan. Mereka semua berjoget bersama sambil mendengarkan iringan lagu dangdut yang dimainkan langsung oleh tim kesenian kuda renggong.
Kejadian ini terus berulang di Lapangan Pacuan Kuda Kayu Ambon, Lembang, Kabupaten Bandung Barat dalam gelaran Kejuaraan Pacuan Kuda Tradisional Lembang, Minggu (24/8) lalu.
Sabtu, 08 Desember 2012
Manusia Kolecer*
Masyarakat yang bermukim sekitar 70 kilometer sebelah Utara Kota Bandung ini mengibaratkan kehidupan seperti sebuah kolecer (baling-baling). Mainan tradisional yang berputar dan mengeluarkan bunyi ketika angin berhembus. Permainan ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di sana. Abah Suminta (68), tetua di kampung itu menuturkan, kolecer menggambarkan satu putaran kehidupan manusia di dunia. Ada kalanya hidup di atas dan ada kalanya hidup di bawah.
Kolecer terbuat dari bambu dan kayu yang berbentuk huruf "T".
Bagian horizontalnya akan berputar jika tertiup angin dan bisa mengeluarkan suara seperti degungan ribuan tawon kalau angin cukup besar. "Menantang angin itu seperti menantang diri kita sendiri," kata Suminta di sela-sela prosesi doa syukur Festival Kolecer 2008 yang dibuat bersamaan dengan hajat lembur atau pesta rakyat, Jumat (2/1) lalu.
Langganan:
Postingan (Atom)


