Masyarakat yang bermukim sekitar 70 kilometer sebelah Utara Kota Bandung ini mengibaratkan kehidupan seperti sebuah kolecer (baling-baling). Mainan tradisional yang berputar dan mengeluarkan bunyi ketika angin berhembus. Permainan ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di sana. Abah Suminta (68), tetua di kampung itu menuturkan, kolecer menggambarkan satu putaran kehidupan manusia di dunia. Ada kalanya hidup di atas dan ada kalanya hidup di bawah.
Kolecer terbuat dari bambu dan kayu yang berbentuk huruf "T".
Bagian horizontalnya akan berputar jika tertiup angin dan bisa mengeluarkan suara seperti degungan ribuan tawon kalau angin cukup besar. "Menantang angin itu seperti menantang diri kita sendiri," kata Suminta di sela-sela prosesi doa syukur Festival Kolecer 2008 yang dibuat bersamaan dengan hajat lembur atau pesta rakyat, Jumat (2/1) lalu.
