Yadi Angga memacu Puma, kuda
tunggangannya mengelilingi lintasan pacu sepanjang 800 meter. Debu-debu
yang beterbangan dan menempel di hidung serta bibirnya tidak dia
pedulikan. Matanya terlindung di balik kacamata yang dia pakai.
Meski
baru berusia 13 tahun dan berbadan paling kecil, Yadi berhasil
mengungguli enam penunggang lainnya melintas garis finish. Setelah
menerima piala dan hadiah uang, Yadi dan Puma diarak para pendukungnya
meninggalkan arena pacuan. Mereka semua berjoget bersama sambil
mendengarkan iringan lagu dangdut yang dimainkan langsung oleh tim
kesenian kuda renggong.
Kejadian ini terus berulang di Lapangan
Pacuan Kuda Kayu Ambon, Lembang, Kabupaten Bandung Barat dalam gelaran
Kejuaraan Pacuan Kuda Tradisional Lembang, Minggu (24/8) lalu.
Rabu, 12 Desember 2012
Sabtu, 08 Desember 2012
Manusia Kolecer*
Masyarakat yang bermukim sekitar 70 kilometer sebelah Utara Kota Bandung ini mengibaratkan kehidupan seperti sebuah kolecer (baling-baling). Mainan tradisional yang berputar dan mengeluarkan bunyi ketika angin berhembus. Permainan ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di sana. Abah Suminta (68), tetua di kampung itu menuturkan, kolecer menggambarkan satu putaran kehidupan manusia di dunia. Ada kalanya hidup di atas dan ada kalanya hidup di bawah.
Kolecer terbuat dari bambu dan kayu yang berbentuk huruf "T".
Bagian horizontalnya akan berputar jika tertiup angin dan bisa mengeluarkan suara seperti degungan ribuan tawon kalau angin cukup besar. "Menantang angin itu seperti menantang diri kita sendiri," kata Suminta di sela-sela prosesi doa syukur Festival Kolecer 2008 yang dibuat bersamaan dengan hajat lembur atau pesta rakyat, Jumat (2/1) lalu.
‘Surga Tersembunyi’ di Ujung Genteng*
Jumat, 6 Januari 2012 petang.
Sedikitnya 100 orang berjajar di Pantai Pangumbahan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat menghadap ke laut. Masing-masing memegang tukik atau anak penyu di kedua tangannya. Secara pelan-pelan, mereka melepaskan tukik-tukik itu ke atas pasir.
Belum lagi sinar matahari meninggalkan garis horizon, anak-anak penyu itu sudah hilang ke arah Samudera Hindia di selatan Pulau Jawa. Langkah kecil mereka terasa begitu cepat, mungkin karena sudah tidak sabar merasakan ‘kebebasan’ setelah berada di dalam telur sekitar 40 45 hingga 60 hari.
Petang itu, ada sekitar 1.200 tukik yang dilepas oleh pengunjung dan petugas di Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan. Namun tidak semua bayi penyu hijau (chelonia mydas) itu bisa bertahan hidup dan menjadi dewasa. “Mungkin hanya sekitar 1 persen saja yang bisa bertahan dan menjadi dewasa,” kata Anang, petugas penetasan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Konservasi Penyu Pangumbahan Kabupaten Sukabumi kepada saya.
Sedikitnya 100 orang berjajar di Pantai Pangumbahan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat menghadap ke laut. Masing-masing memegang tukik atau anak penyu di kedua tangannya. Secara pelan-pelan, mereka melepaskan tukik-tukik itu ke atas pasir.
Belum lagi sinar matahari meninggalkan garis horizon, anak-anak penyu itu sudah hilang ke arah Samudera Hindia di selatan Pulau Jawa. Langkah kecil mereka terasa begitu cepat, mungkin karena sudah tidak sabar merasakan ‘kebebasan’ setelah berada di dalam telur sekitar 40 45 hingga 60 hari.
Petang itu, ada sekitar 1.200 tukik yang dilepas oleh pengunjung dan petugas di Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan. Namun tidak semua bayi penyu hijau (chelonia mydas) itu bisa bertahan hidup dan menjadi dewasa. “Mungkin hanya sekitar 1 persen saja yang bisa bertahan dan menjadi dewasa,” kata Anang, petugas penetasan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Konservasi Penyu Pangumbahan Kabupaten Sukabumi kepada saya.
Langganan:
Postingan (Atom)


